This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Perdebatan Matematika dan Pendidikan Matematika Sebuah Solusi Filsafat Bag. 3

Perdebatan Matematika dan Pendidikan Matematika
Sebuah Solusi Filsafat
oleh

Ibrohim Aji Kusuma, S.Pd. dan Prof. Dr. Marsigit, M.A.


C.  Obyek Ilmu (Matematika dan Pendidikan Matematika)

Secara umum, objek filsafat berupa yang ada dan mungkin ada mencakup segala yang pernah ada, telah ada dan akan ada di dunia. Demikian juga dalam ilmu matematika dan pendidikan matematika. Berikut penjelasan objek ilmu matematika dan pendidikan matematika.

Tesis

Ruang lingkup objek ilmu matematika meliputi fakta, konsep, operasi dan prinsip. Penjelasan dari objek ilmu matematika adalah sebagai berikut[1].
1.      Fakta
Dalam matematika yang dimaksud dengan fakta adalah simbol-simbol tertentu. Cara mempelajari fakta bisa dengan hafalan (terus menerus) Misalkan simbol bilangan 3. Secara umum sudah dipahami bahwa angka 3 dibaca  “tiga” dan sebaliknya. Orang akan langsung menafsirkan bahwa simbol 3 bermakna ‘tiga” sebab mereka memahami fakta dari sebuah simbol dalam matematika.
2.      Konsep
Konsep adalah ide abstrak yang dapat menggolongkan atau mengklasifikasi sekumpulan objek (apakah suatu objek itu masuk dalam kategori konsep atau bukan). Menurut matematikawan, ada beberapa cara untuk mengajarkan konsep yaitu:
a.      Pendefinisian
b.      Menyatakan syarat cukup
c.       Memberi contoh
d.      Memberi alasan/penyelesaian dari contoh
e.      Memberi kesamaan/perbedaan suatu objek Memberi contoh penyangkal

3.      Operasi
Operasi adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar, dan pengerjaan matematika yang lain. Pada dasarnya operasi dalam matematika adalah suatu fungsi yang relasi khusus, karena operasi adalah aturan untuk memperoleh elemen tunggal dari satu atau lebih elemen yang diketahui.
4.    Prinsip
Prinsip adalah objek kajian matematika yang lebih kompleks, prinsip terdiri atas beberapa fakta, beberapa konsep, dan beberapa operasi. Prinsip adalah hubungan antara berbagai objek matematika. Prinsip dapat berupa aksioma, teorema sifat dan sebagainya.
Senada dengan penjelasan diatas, Bell (1981) menyatakan bahwa objek matematika terdiri atas fakta, keterampilan, konsep, dan prinsip[2]. Berikut adalah uraian mengenai objek-objek matematika tersebut.
1. Fakta
Fakta adalah semua kesepakatan dalam matematika, seperti simbol-simbol matematika. Siswa dikatakan memahami fakta apabila ia telah dapat menyebutkan dan menggunakannya secara tepat.
2. Keterampilan
Keterampilan adalah operasi atau prosedur yang diharapkan dapat dikuasai siswa secara cepat dan tepat. Siswa dikatakan menguasai keterampilan apabila ia dapat menunjukkan keterampilan tersebut secara tepat, dapat menyelesaikan berbagai jenis masalah yang memerlukan keterampilan tersebut, dan menerapkan keterampilan tersebut ke dalam berbagai situasi.
3. Konsep
Konsep adalah ide abstrak yang memungkinkan seseorang dapat menentukan apakah suatu objek atau kejadian merupakan contoh atau bukan contoh konsep. Siswa dikatakan menguasai konsep apabila ia mampu mengidentifikasi contoh dan noncontoh konsep.
4. Prinsip
Prinsip adalah rangkaian beberapa konsep secara bersama-sama beserta hubungan (keterkaitan) antarkonsep tersebut. Siswa dikatakan menguasai prinsip apabila ia dapat mengidentifikasi konsep-konsep yang terkandung di dalam prinsip tersebut, menentukan hubungan antarkonsep, dan menerapkan prinsip tersebut ke dalam situasi tertentu
Menurut Gagne, terdapat 2 macam objek pendidikan matematika yaitu objek-objek langsung (direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects). Berikut penjelasan objek langsung dan tak langsung.
1.      Objek-objek langsung
Objek langsung matematika sama dengan objek matematika yaitu fakta, konsep, operasi dan prinsip.
2.      Objek-objek tak langsung
Objek-objek tak langsung dari pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berfikir analitis, sikap positif terhadap matematika, ketelitian, ketekunan, kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan dipelajari jika siswa mempelajari matematika.

Anti-tesis

Anti-tesis dari objek matematika dan pendidikan matematika adalah ilmu sosiologi dan pendidikan sosiologi. Tentu saja, karena matematika dan sosiologi sangat berbeda. Objek sosiologi ada dua macam, yaitu objek material dan objek formal berikut penjelasannya.
1.      Objek material
Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala, dan proses hubungan antarmanusia yang mempengaruhi kesatuan hidup manusia itu sendiri.
2.      Objek formal
Objek formal sosiologi ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial atau masyarakat. Dengan demikian, objek formal sosiologi adalah hubungan antarmanusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.
Adapun fungsi dan tujuan mempelajari sosiologi yaitu sebagai berikut.
1.      Dengan mempelajari sosiologi, kita akan dapat melihat dengan lebih jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota kelompok atau masyarakat.
2.      Sosiologi membantu kita untuk mampu mengkaji tempat kita di masyarakat, serta dapat melihat budaya lain yang belum kita ketahui.
3.      Dengan bantuan sosiologi, kita akan semakin memahami pula norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lain, dan memahami perbedaan-perbedaan yang ada tanpa hal itu menjadi alasan untuk timbulnya konflik di antara anggota masyarakat yang berbeda.
4.      Kita sebagai generasi penerus, mempelajari sosiologi membuat kita lebih tanggap, kritis, dan rasional menghadapi gejala-gejala sosial masyarakat yang makin kompleks dewasa ini, serta mampu mengambil sikap dan tindakan yang tepat dan akurat terhadap setiap situasi sosial yang kita hadapi sehari-hari.

Sintesis

Sintesis dari keduanya adalah mengaitkan matematika dan pendidikan matematika denga ilmu sosial atau sosiologi. Implikasi dalam hal ini diantaranya berupa penerapan ilmu matematika dalam ruang lingkup sosiologi dan sebaliknya. Sedangkan dalam pembelajarn matematika dapat dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial siswa dalam pembelajaran seperti teori belajar sosial, pembelajaran kooperatif dan kolaboratif, komunikasi dan presentasi hasil pembelajaran siswa.



[1] https://darmangilawayan.wordpress.com/2013/01/19/objek-dasar-matematika/
[2] http://staffnew.uny.ac.id/upload/132240454/pengabdian/Pengembangan+Pemb+Matematika_1.pdf

Perdebatan Matematika dan Pendidikan Matematika Sebuah Solusi Filsafat Bag. 2

Perdebatan Matematika dan Pendidikan Matematika
Sebuah Solusi Filsafat
oleh

Ibrohim Aji Kusuma, S.Pd. dan Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Karakteristik ilmu berkaitan degan sifat yang melekat pada ilmu pengetahuan yang dikembangkan. Sifat-sifat ini yang secara lebih luas akan menghasilkan prinsip-prinsip dasar dalam ilmu pengetahuan tersebut. Menurut Nazir (1983)[1], ilmu merupakan cody og knowledge baik ilmu alam atau sosial yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum.  Meski demikian, terdapat batasan tertentu sesuatu dikatakan sebagai ilmu. Batasan tersebut berupa ilmu sebagai pengetahuan logis dan mempunyai bukti empiris (Tafsir, 1992)[2].
Secara umum, karakteristik ilmu menurut Ismaun (2011)[3] yaitu
1.      Obyektif; ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif
2.      Koheren; pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan
3.      Reliable; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterkitalan (reabilitas) tinggi
4.      Valid; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal,
5.      Memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum
6.      Akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi) yang tinggi
7.      Dapat melakukan prediksi; ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.
Sedangkan sifat ilmu[4] antara lain:
1.      Memiliki objek
Setiap ilmu memiliki objek yang menjadi pusat kajian. Objek yang dikaji dalam mempelajari suatu ilmu biasanya bersifat spesifik.  Contohnya ilmu matematia,  ilmu biologi,  kesenian dll.
2.      Memiliki metode
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan tidak dilakukan secara asal-asalan. Tetapi memerlukan metode khusus.  Metode yang digunakan untuk mempelajari ilmu pengetahuan disebut metode ilmiah.  Metode ilmiah di gunakan untuk meneliti dan mempelajari suatu objek sehingga ditemukan kebenaran.  Ilmu yang dikembangkan dengan menggunakan metode ini kebenaranya akan diakui secara ilmiah oleh seluruh pakar ilmu pengetahuan yang berlaku sampai ada bukti baru yang menentang atau menggugurkannya.
3.      Bersifat sistematis
Ilmu pengetahuan harus bersifat sistematis.  Maksudnya adalah ilmu pengetahuan harus tersusun secara sistematis dari yang sederhana hingga yang kompleks yang diatur sedemikian rupa sehingga yang satu dan yang lainnya dapat saling mendukung.  Sifat sistematis ini bertujuan untuk mempermudah dalam mempelajari ilmu tersebut.
4.      Bersifat Universal
Ilmu pengetahuan harus bersifat universal,  maksudnya adalah kebenaran yang disajikan dalam ilmu pengetahuan harus berlaku secara umum dan diterima di semua institusi pendidikan.  Sifat unibersal ini selain bertujuan untuk mempermudah dalam pembelajaran juga agar tercipta suatu keseragaman.  Sehingga kebenaran yang diungkapkan dapat di terima diseluruh pelosok dunia.
5.      Bersifat Objektif
Ilmu pengetahuan harus bersifat objektif maksudnya adalah semua pernyataan yang dikemukakan harus bersifat jujur,  sesuai dengan kondisi yang sebenarnya,  mengandung data dan informasi yang akurat,  bebas dari prasangka,  tidak menimbulkan kesenjangan dan tidak berhubungan dengan kepentingan pribadi orang per orang.
6.      Bersifat Analitis
Ilmu pengetahuan harus bersifat analitis, artinya  ilmu yang di pelajari akan menuju hal-hal yang lebih khusus seperti bagian,  sifat,  peranan dan berbagai hubungan.  Untuk memahami hal yang bersifat khusus perlu pengkajian secara khusus pula,  sehingga terdapat antar hubungan bagian yang dikaji sebagai hasil analisa.
7.      Bersifat Verifikatif
Artinya pernyataan yang berupa kebenaran dalam ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat terbuka atau verifikatif.  Sehingga bila suatu masa di temukan bukti-bukti baru yang tidak mendukung kebenaran yang semula maka teori tersebut dapat di tumbangkan untuk memberi tempat pada kebenaran yang baru yang lebih relevan.

Tesis

Karakteristik ilmu matematika menurut Soedjadi (2000)[5] adalah
1.      Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisisr secara sistematik.
2.      Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
3.      Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
4.      Matematika adalah pengetahuan fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
5.      Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logic.
6.      Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.
Senada dengan Soedjadi (2000), Sumardyono (2004) mendeskripsikan karakteristika ilmu matematika sebagai berikut[6].
1.      Matematika sebagai struktur yang terorganisir
Agak berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lain, matematika merupakan suatu bangunan struktur yang terorganisir. Sebagai sebuah struktur, ia terdiri atas beberapa komponen, yang meliputi aksioma/postulat, pengertian pangkal/primitif, dan dalil/teorema (termasuk di dalamnya lemma (teorema pengantar/kecil) dan corolly/sifat).
2.      Matematika sebagai alat (tool)
Matematika juga sering dipkitang sebagai alat dalammencari solusi pelbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Matematika sebagai pola pikir deduktif
Matematika merupakan pengetahuan yang memiliki pola pikir deduktif, artinya suatu teori atau pernyataan dalam matematika dapat diterima kebenarannya apabila telah dibuktikan secara deduktif (umum).
4.      Matematika sebagai cara bernalar (the way of thinking)
Matematika dapat pula dipkitang sebagai cara bernalar, paling tidak karena beberapa hal, seperti matematika matematika memuat cara pembuktian yang sahih (valid), rumus-rumus atau aturan yang umum, atau sifat penalaran matematika yang sistematis.
5.      Matematika sebagai bahasa artifisial
Simbol merupakan ciri yang paling menonjol dalam matematika. Bahasa matematika adalah bahasa simbol yang bersifat artifisial, yang baru memiliki arti bila dikenakan pada suatu konteks. 6.
6.      Matematika sebagai seni yang kreatif
Penalaran yang logis dan efisien serta perbendaharaan ide-ide dan pola-pola yang kreatif dan menakjubkan, maka matematika sering pula disebut sebagai seni, khususnya merupakan seni berpikir yang kreatif.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa matematika terdiri atas hubungan pola, bentuk, struktur, fakta, operasi dan prinsip. Karakteristik ilmu matematika berkenaan dengan gagasan yang berstruktur yang hubungan-hubungannya diatur secara logis dan sistematik, di mana konsep-konsepnya abstrak, aturan-aturannya ketat dan penalarannya deduktif.
Pendidikan matematika, yang dalam konteks ini disebut dengan matematika sekolah adalah matematika yang umumnya diajarkan di jenjang pendidikan formal dari SD sampai dengan tingkat SMA. Tidak termasuk tingkat perguruan tinggi karena di perguruan tinggi matematika didefinisikan dalam konteks matematika sebagai ilmu (matematika murni). Matematika sekolah jelas berkaitan dengan siswa yang menjalani proses perkembangan kognitif dan emosional masing-masing. Secara khusus, dapat dikatakan bahwa dalam matematika sekolah perlu memperhatikanaspek teori psikologi khususnya teori psikologi perkembangan. Mereka memerlukan tahapan belajar sesuai dengan perkembangan jiwa dan kognitifnya. Potensi yang ada pada diri anak pun berkembang dari tingkat rendah ke tinggi, dari sederhana ke kompleks.[7]
Karakteristik pendidikan matematika menurut Susanti (2011) adalah sebagai berikut[8].
1.      Mmemiliki objek kajian yang konkrit dan abstrak.
2.      Pola berfikir deduktif dan indektif.
3.      Kebenaran berkonsistensi dan berkorelasi.
4.      Berteumpu pada kesepatan.
5.      Memiliki simbol kosong dari arti dan juga berarti atau memiliki semesta tertentu.
6.      Taat pada semestanya dan digunakan untuk membedakan tingkatan dan level.
Menurut Ebutt dan Straker (1995)[9], Hakekat Matematika Sekolah meliputi:
1.      Mencari pola-pola atau hubungan antar satu konsep dengan konsep yang lain.
2.      Melakukan kegiatan investigasi sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.
3.      Mencoba menyelesaikan permasalahan matematika.
4.      Mengomunikasikan hasil-hasilnya kepada teman atau guru baik secara lisan maupun tertulis.

Anti tesis

Anti tesis karakteristik ilmu matematika berupa konkrit, realistis, kontradiktif dan normatif. Konkrit artinya bisa dirasakan melalui alat indra atau pengalaman bukan abstrak. Realistis atau realisme berarti segala sesuatu didasari oleh kenyataan yag terjadi bukan idealis. Anti-tesis berikutnya adalah kontradiktif dimana  yang berarti identitas. Normatif yaitu aturan-aturan yang berlaku memperhatikan ruang dan waktu.
Anti-tesis dari pendidikan matematika adalah bidang ilmu lain selain pendidikan mateamatika seperti kesenian, olahraga, bahasa indonesia, bahasa inggris dan sebagainya. Selama ini, bidang ilmu tersebut seolah-olah sangat berlawanan dengan matematika dan pendidikan matematika. Hal ini karena antara pendidikan matematika dan bidang lain dikarenakan ilmu matematika memiliki karakteristik yang berbeda. Padahal hakikatnya mereka memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda.

Sintesis

Sintesis dari keduanyan harus berasalah dari kesadaran masing-masing bahwa ilmu matematika dan anti-tesisnya benar-benar sangat berbeda. Artinya, dua hal yang saling berlawanan tidak mungkin digabungkan menjadi sebuah kesatuan utuh karena keberadaan satu menafikakan keberadaan lainnya. Solusinya yang ditawarkan sebagai sintesis dari permasalahan ini adalah para pemerhati atau ilmuwan masing-masing aliran harus memiliki kesadaran penuh dan rasa lapang dada atau toleransi terhadap pihak lainnya. Sebagai ilustrasi, angka 6 tidak selalu disebut enam namun dalam suatu kondisi tertentu atau sudut pkitang lain bisa menjadi angka 9 yang disebut sembilan. Hendaknya muncul rasa saling menghorati dan menghargai agar tercipta perkembangan ilmu yang positif dan berkemajuan.
Sintesis antara pendidikan matematika dan bidang ilmu pendidikan lainnya adalah pembelajaran tematik, pembelajaran berbasis kompetensi, dan minat, bakat siswa. Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang melibatkan bebrbagai tema menjadi sebuah kesatuan tujuan pembelajaran Di Indonesia, pembelajaran tematik sudah diimplementasikan pada jenjang pendidikan sekolah dasar. Pembelajaran berbasis kompetensi merupakan pembelajaran yang menjadikan kompetensi sebagai indikator keberhasil pembelajran. Hal ini sudah dilakukan pemerintah melalui kurikulum 2013 yang menekankan pada aspek kompetensi yang diharapakan dicapai oleh siswa. Selanjutnya, siswa secara hakekatnya memiliki karakter yang berbeda-beda, kemampuan yang berbeda-beda dan bakat serta minat yangberbeda-beda pula. Oleh karena itu, pembelajaran matematika perlu ditekankan bagi siswa-siswa yang memiliki bakat dan minat di bidang ini atau setidaknya membuthkan bidang ilmu pendidikan matematika. Demikian juga untuk bidang ilmu lainnya.



[1] https://filsafatilmu.wordpress.com/2016/06/07/karakteristik-ilmu-pengetahuan/
[2] Ibid,.
[3] Ibid,.
[4] Ibid,.
[5] https://www.academia.edu/7216165/Hakikat_Matematika
[6] Ibid,.
[7] https://www.scribd.com/doc/72219619/PENDIDIKAN-MATEMATIKA
[8] Ibid,.
[9] https://powermathematics.blogspot.com

Perdebatan Matematika dan Pendidikan Matematika Sebuah Solusi Filsafat Bag. 1

Perdebatan Matematika dan Pendidikan Matematika
Sebuah Solusi Filsafat
oleh

Ibrohim Aji Kusuma, S.Pd. dan Prof. Dr. Marsigit, M.A.

A. Persoalan-Persoalan Pokok dalam Pengembangan Ilmu (Matematika dan Pendidikan Matematika)

Filsafat mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dimulai dari keragu-raguan bukan dimulai dari kepastian. Ilmu pengetahuan memulai dari keragu-raguan akan hakikat kebenaran objek penelaahannya. Penelaahan ilmu pengetahuan terbatas pada objek yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan ilmu pengetahuan mencakup kejadian-kejadian atau seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pengalaman. Objek yang memiliki karakteristik seperti ini disebut dengan objek filsafat yang ada. Dalam konteks ini, filsafat ini dinamakan empirisme. Filsuf lain menyebutnya dengan sintetik.
Ilmu pengetahuan juga bisa berkembang melalui akal pikiran saja. Pikiran berkembang dalam proses penelusuran hakikat kebenaran objek yang ditelaah. Objek yang dimaksud tidak harus berasal dari sesuatu yang dapat dijangkau oleh pengalaman manusia namun bersifat ekstensif/ meluas dan belum wujud dalam kenyataan dunia. Objek yang memiliki karakteristik seperti ini disebut dengan objek filsafat yang mungkin ada. Filsafat yang berkeyakinan seperti ini disebut dengan rasionalisme atau analitik.

Tesis

Perkembangan ilmu matematika dan pendidikan matematika tentu saja mengalami kemajuan yang signifikan. Hemat penulis, dalam pendidikat matematika meliputi perkembangan dalam permodelan matematika, aljabar abstrak, fungsi dinamik serta penerapan matematika dalam kehidupan nyata dan lain sebagainya. Sebagai contoh, penggunaan matematika dalam permodelan untuk memprediksi penularan sebuah penyakit endemik, pengolahan data dengan konsep matematika tertentu yang disebut dengan big data analysis dan sejenisnya.
Sedangkan perkembangan pendidikan matematika seperti perkembangan pendekatan, metode, strategi dan model pembelajaran matematika. Pendekatan saintifik, Ethnomatematika, Blended dan Flipped Learning merupakan contoh perkembangan pembelajaran matematika dalam konteks perkembangan pendekatan, metode, strategi dan model pembelajaran matematika. Perkembangan juga dapat berupa kemampuan-kemampuan yang mungkin dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika melalui penelitian-penelitian yang telah dilakukan seperti kemampuan berfikir tingkat tinggi, kreatif, kritis, metakognitif dan lain-lain.

Anti-tesis

Demikian adalah contoh-contoh tesis dari perkembangan ilmu matematika dan pendidikan matematika. Sedangkan anti-tesisnya adalah segala sesuatu yang bersifat resistent dengan perkembangan di atas. Diantara contoh anti-tesis dalam perkembangan ilmu matematika adalah budaya. Budaya menjadi anti-tesis karena selama ini jarang sekali usaha para pendidik dan peneliti yang mengaitkan dengan budaya. Padahal, sumber daya budaya atau warisan kekayaan budaya di Indonesia tidak terhitung jumlahnya. Diantara adalah candi borobudur, candi prambanan, rumah adat, tarian jawa, batik dan lain sebagainya.

Sintesis

Sintesis antara tesis dan anti-tesis diatas adalah mengaitkan matematika dan pembelajaran matematika dengan budaya. Akhir-akhir ini, perkembangan ilmu pengetahuan yang mencoba mengaitkan matematika dan pendidikan matematika adalah ethnomatematika. Ethnomatematika adalah perluasan perkembangan ilmu matematika dan pendidikan matematika dalam konteks budaya.
Budaya dan ilmu matematika menghasilkan eksplorasi produk-produk budaya yang berkaitan dengan matematika. Diantaranya adalah permainan-permainan tradisional, satuan-satuan pengukuran tertentu, tarian dan lain sebagainya. Sedangkan dalam bidang pendidikan matematika dapat dilakukan dengan cara mengekplorasi local wisdom (kearifan lokal) dan penerapannya dalam pembelajaran matematika. Inovasi pembelajaran matematika berbasis local wisdom perlu untuk dikembangkan dalam berbagai jenjang penddikan matematika di Indonesia.